Tampilkan postingan dengan label Sejarah Papua. Tampilkan semua postingan

deklarasi-1-desember-1961-di-manokwari-west-papua
(Photo Dok) Deklarasi 1 Desember 1961 di Manokwari West Papua

Oleh Dr. Socratez S.Yoman (Ndumma)
  1. Pendahuluan
Topik artikel ini penulis memulai dari pengalaman bangsa Israel.
Yohanan ben Zakkai Adalah seorang terdidik orang Yahudi yang menjadi kunci dalam sejarah bangsa Yahudi di abad pertama, 77 tahun setelah Yesus. Ketika tentara Kerajaan Romawi di bawah komando Jenderal Flavious Titus manghancurkan Jerusalem, Yohanan ben Zakkai menyelamatkan dan semua buku-buku yang menyangkut sejarah dan bahasa orang Yahudi. Dia sembunyikan dan mulai membangun sekolah untuk mengajar generasi berikut yang selamatkan diri dari pembakaran kota Yerusalem. 
Sekolah yang Yohanan dirikan menjadi fondasi untuk melanjutkan pengetahuan dan bahasa bangsa Yahudi untuk generasi ribuan tahun kedepan. Ia diangkat sebagai pahlawan moyang mereka dalam konteks pendidikan, bahasa dan sejarah. Bangsa Yahudi di Israel dan seluruh dunia menghormati Yohanan sepanjang sejarah.
  1. Sejarah Bangsa West Papua dibawah kolonial Indonesia
Pemerintah Indonesia yang menduduki dan menjajah West Papua sejak tahun 1961, kekuatan ABRI waktu itu (kini TNI) telah berjuang keras membakar semua dokumen-dokumen penting sejarah rakyat dan bangsa West Papua. ABRI mencari semua buku-buku, simbol-simbol yang berhubungan sejarah dari rumah ke rumah dan dari sekolah ke sekolah. Tindakan-tindakan seperti itu masih berlaku sampai saat sekarang ini.
  1. Penjajah biasa hancurkan 6 pilar
3.1. Pendidikan dihancurkan;
3.2. Kesehatan dihancurkan;
3.3. Ekonomi dihancurkan;
3.4. Kebudayaan dihancurkan, yaitu: kuburkan/hilangkan bukti-bukti sejarah bangsa itu sehingga tidak bisa diteliti dan dibuktikan kebenarannya; dan bahasa daerah dihilangkan;
3.5. Putuskan hubungan mereka dengan leluhur dengan mengatakan leluhur itu bodoh & primitif.
3.6. Tanah mereka dirampas atas nama pembangunan nasional.
  1. Apakah bangsa West Papua mengalami situasi ini dalam koloni Indonesia?

Penulis: Presiden Baptis Papua Oleh Bapak Ndumma Socratez. S. Yoman, M.A
IWP, 12082018;22:18.

Sejarah Papua Nugini dan Papua Barat - Tabloid WANI
Papua merupakan pulau terbesar kedua di dunia, setelah Greenland di Denmark dan Pulau terbesar pertama di Indonesia (kalau digabung dengan PNG). Para pelaut pada masa awal menyebut pulau ini dengan sebutan “Nueva Guine” yang kemudian dalam bahasan Inggirs disebut “New Guinea”. Dari penyebutan ini yang kemudian dalam bahasa Indonesia biasanya dilafalkan”Nugini/ Papua Nugini”. Nama ini bertahan sekitar dua abad lamanya.
Setelah penjajah Belanda, Inggris dan Jerman memasuki pulau ini, mereka membagi pulau Nuguni menjadi tiga bagian. Penamaan pun disesuaikan dengan kekuasaan mereka atas ketiga wilayah tersebut. Bagian barat “West New Guinea” dikuasai Belanda sehingga dikenal dengan Netherland New Guinea. Selain nama ini, Belanda juga pernah menggunakan nama Dutch New Guinea.
Bagian Timur atau East New Guinea dikuasai Inggris dan mengunakan nama Nugini Britania yang kelak akan menjadi Papua New Guinea (PNG). Sedangkan bagian utara dikuasai Jerman yang dikenal dengan “Deutsch-Neuguinea” atau “Nugini Jerman”. Nugini yang dikuasai Jerman telah berada di bawah kekuasaan militer Australia di awal Perang Dunia I [1]
Jadi, untuk saat ini kalau kita sebut “Papua Nuguni” maka mengacu pada Papua New Guinea (PNG) mencakup wilayah jajahan Jerman yang sudah menjadi bagian dari PNG. Kalau “Papua Barat (West Papua)” mengacu pada Netherland New Guinea yang saat ini menjadi bagian dari Indonesia.
Luas keseluruhan Pulau Papua adalah 890.000 Km².(termasuk wilayah PNG). Luas Pulau Papua bagian Indonesia adalah 421.981 Km². Bagian PNG adalah 462.840 Km² dan turut menempatkan Papua Nuguni menjadi negara terluas ke-54 di dunia.
Itu artinya, pulau Papua bagian Barat tanpa memasukkan Papua New Guinea saja mencapai 4 kali luas Pulau Jawa. Kalau dengan Papua New Guinea hampir mencapai 8 kali luas pulau Jawa. Jadi, kalau anda orang luar Papua dan menanyakan suatu kejadian di Papua harus memahami kodisi masalahnya. Mengapa? Karena Papua itu sangat luas. Di Jawa yang aksesnya sudah terhubung dengan luas seperti itu saja, anda belum tentu mengetahui kejadian di kabupaten tetangga anda.
” Perlu di ketahui saat ini pulau Papua bagian Indonesia terbagi atas 2 Provinsi. Provinsi Papua dan Papua Barat. Ketiba sobat berkata Papua Barat harus mengerti konteks pembicaraannya. Nama ini dapat mengacu pada wilayah Barat Pulau Nugini atau provinsi Papua Barat “.
Dalam hal nama Papua. Ada beberapa masyarakat Indonesia yang kurang memahami antara Papua dan Irian/Irian Jaya. Padahal nama Papua digunakan lebih awal daripada Irian. Nama Irian sendiri di usulkan Frans Kaisiepo dalam Konfrensi Malino tahun 1946. Nama ini diserap dari bahasa Biak yang artinya “sinar matahari yang menghalau kabut di laut sehingga ada harapan bagi para nelayan Biak untuk mencapai tanah daratan Irian di seberangnya.[2]
Catatan: Arti nama ini ada banyak versi yang turut menyisakan kontradiksi. Ada yang mengatakan “tanah yang panas”. Ada juga yang berpendapat “tanah beruap atau semangat untuk bangkit”
Nama Irian ini pun terkadang masih salah dipahami oleh beberapa masyarakat Indonesia. Pelafalan dan penulisan yang benar adalah Iryan bukan Irian. Tetapi, waktu itu Soekarno mempromosikan nama IRIAN karena sesuai dengan akronim “Ikut Republik Indonesia Anti Nederland” yang tentunya seiring dengan semangat merebut “Netherland New Guinea” dari kekuasaan Belanda[3]. Pada masa itu, Soekarno menggunakan nama Irian Barat. Setelah merebut pulau ini dari Belanda, pada tanggal 1 Maret 1973 nama Irian Barat resmi diganti menjadi Irian Jaya.
Dari proses itulah, cikal bakal lahirnya nama Irian, Irian Barat, atau Irian Jaya. Namun, pada tahun 2001, presiden Abdurrahman Wahid menghapus nama Irian Jaya dan mengembalikan nama Pulau itu kenama aslinya, Papua. Sedangkan untuk Papua bagian Timur yang dikuasai Inggris, sampai saat ini masih menggunakan nama Papua New Guinea dan sudah menjadi negara yang berdaulat.
Jadi, antara Papua dan Irian Jaya merujuk pada satu daerah yang sama. Cuma, saat ini yang telah diakui oleh orang Papua dan pemerintah Indonesia adalah “Papua” bukan Irian/Irian Jaya. Tentang asal usul nama Papua akan dibahas lebih lanjut pada arikel ini.

1. Proses Geologi Terbentuknya Pulau Nugini [Papua]

Mayoritas wilayah Pulau Nugini didominasi oleh gunung-gunng. Pulau ini secara tektonik merupakan pecahan dari lempeng Australia bagian utara. Secara geografis, pulau ini memang terpisah dari Australia, namun sebenarnya Laut Arafura yang memisahkan kedua wilyah ini tidak terlalu dalam. Artinya, kurang dari 15 m dan laut ini tidak ada selama 20.000 tahun lalu.
Pada awalnya pulau New Guinea merupakan lempeng Australia (lempeng Sahul) yang berada di bawah dasar lautan Pasifik. Tetapi, akibat adanya tumbukan lempeng (tektonik lempeng) antara lempeng benua Australia (Lempeng Sahul) dan lempeng Samudera Pasifik mengakibatkan terangkatnya lempeng Australia menjadi sebuah pulau dibagian Utara Australia. Lempeng ini terus bergerak lambat ke utara dan pegunungan di pesisir bagian utara diperkirakan masih terus bertambah tinggi.[4]
Itulah sebabanya pulau ini menghasilkan material-material yang berada dari dalam mantel terekspos dan menghasilkan banyak sumber daya alam, berupa bahan tambang seperti emas, tembaga uranium dan lain sebagainya yang tentunya masih tersimpan rapi dalam perut pulau ini.
Hamilton (1979) yang juga merupakan geologiwan modern melihat formasi pulau ini sebagai hasil tumbukan dengan sistem busur tunggal yang terbentuk di atas zona subduksi yang tenggelam ke arah utara, yaitu di bagian utara Nugini selama Periode Kreta dan Tersier Awal. Hipotesisnya adalah sistem busur ini telah bertumbukan dengan Nugini pada Kala Miosen.[5] (Pengertian: Miosen).
Dalam proses tumbukan itu perlu dipahami bahwa tumbukan berskala luas antara Lempeng Australia dan Lempeng Pasifik di Nugini bukan beradu muka, tetapi menyamping, terjadi secara berentetan dari barat ke timur. Karena itu, episode tumbukan busur di Papua Barat umumnya terjadi puluhan juta tahun lebih awal daripada yang terjadi di PNG [6]
Akibat dari pulau Nuguni merupakan pecahan lempeng Australia. Kedua pulau ini banyak ditemukan flora, fauna, dan jenis batuan yang mirip. Tapi, dari segi lingkungan ada perbedaan penting di antara ke dua wilayah ini: Australia beriklim kering dan sedang. Sedangkan Nugini beriklim tropis dan selalu lembab.
Pulau ini menjadi kawasan yang secara tektonik paling rumit dan dinamis di bumi. Bagaimanapun juga, memerkirakan bentuk masa depannya sama sulitnya dengan menafsirkan masa lalunya. Seperti dinyatakan oleh Hall (2002), “Sangat sulit untuk meramalkan kemungkinan bentuk kawasan ini dalam beberapa juta tahun nanti. Logika sederhana mengindikasikan bahwa Lempeng Australia akan terus bergerak ke arah utara dan Lempeng Pasifik akan terus bergerak ke arah barat, menuju Lempeng Erasia.[7]. Sejauh ini yang telah diketahui, gerakan Lempeng Pasifik ke arah barat dengan laju sekitar 7 cm per tahun [8]
Pulau yang awalnya merupakan lempeng Australia dan bagian dari dasar laut Pasifik ini masih menyimpan segudang misteri yang belum terpecahkan. Itu artinya, masih dibutuhkan kajian-kajian yang lebih mendalam dan akurat untuk mengungkap misteri dari pulau yang menyandang beragam nama ini.

2. Kehidupan Awal, Kontak dengan Bangsa Asing, dan Penamaan Pulau Nugini

Pulau Nugini telah dihuni manusia sejak akhir Periode Kuarter (Pengertian:Kuarter). Uniknya, kehidupan manusia awal di Pulau Nugini lebih tua daripada pembentukan pulaunya. Dari segi geologi, pulau Nugini memang termasuk muda. Tetapi, ternyata masyarakatnya termasuk keturunan purba. Hal ini membuktikan bahwa pulau ini dihuni paling sedikit selama 40.000 tahun.[9]
Sistem pertanian mandiri yang dikembangkan didaerah dataran tinggi Pulau Nugini diperkirakan dimulai sekitar 7.000 SM. Hal inilah yang membuatnya menjadi “salah satu dari sedikit daerah domestikasi tanaman asli di dunia.
Sejarah Papua Nugini dan Papua Barat
Peta kuno mencakup Nusantara oleh Hartman Schedel, 1493.
Bukan hanya tertua, tetapi manusia Papua,(Melanesia) sudah mengenal sistem pertanian modern yang dikelola dengan teknologi bernilai efisien dan mengahasilkan pangan yang bernilai gizi tinggi sejak zaman dahulu kala. Harold Ross yang meneliti sistem perkebunan orang Baegu di Kepulauan Solomon: Menyimpulkan bahwa umbi-ubian punya potensi gizi dan ekonomis yang lebih besar ketimbang yang dapat kita pahami dengan latar belakang kita yang lebih condong ke padi-padian [10]
Catatan: Hal lain yang membuat pulau Nugini unik adalah jumlah bahasanya. Pulau ini menjadi satu-satunya daerah di dunia yang memiliki bahasa terbanyak. Di Papua bagian Barat memiliki sekitar 250 bahasa dan ada 800 bahasa di PNG.
Ahli botani Belanda, Chris Versteegh yang mengunjungi Jiwika tahun 1961 juga mengakui bahwa perkebunan ubijar orang Dani itu jauh lebih maju dari pada yang telah dilakukan Pemerintah Belanda di pusat penelitian pertanian Manokwari waktu itu [11]. Artinya, Orang Papua sudah mengenal sistem perkebunan yang mirip seperti surjan di Pulau Jawa itu sebelum 2000 tahun lalu. Perkebunan keladi bentul alias bete, berasal dari tahun 4000 SM. Perkebunan ubi-ubian di Pegunungan Tengah itu, berkembang seiring dengan penjinakan babi, yang telah dibawa masuk ke pulau Papua Barat sesudah 7000 SM [12]
Poin ini membuktikan bahwa pernyataan orang Papua bahwa manusia Papua adalah pemilik tanah Papua adalah kebenaran yang bisa dipertanggungjawabkan. Mereka sudah ada di atas tanah ini dan bahkan sebelum tanah ini terbentuk yang artinya mereka lebih awal berada di sini jauh sebelum dua gelombang nenek moyang orang Melayu tiba di Nusantara.
a. Kontak dengan bangsa Asia
Orang Barat hanya sedikit mengetahui pulau ini hingga abad ke-19, meskipun para saudagar dari Asia Tenggara telah mengunjungi Pulau Nugini sejak 5.000 tahun lalu untuk mengoleksi bulu burung Cenderawasih.
Pada tahun 500 M bangsa China memberi nama Pulau ini dengan “Tungki”. Penamaan ini berawal dari penemuan sebuah catatan harian seorang Tiangkok, Ghau Yu Kuan yang menyebut asal rempah-rempah yang mereka peroleh berasal dari Tungki. Penyebutan itu merujuk pada pulau Papua yang digunakan pedagang China. Pada akhir tahun 600 M, Kerajaan Sriwijaya menyebut pulau ini dengan nama “Jangki”.
Kedatangan dan keberadaan bangsa China itu, dapat dibuktikan dengan adanya beberapa keturunan China di seluruh Tanah Papua seperti China Sorong,China Manokwari, China Fakfak, China Serui dan lain-lain. Selain itu, terdapat pula beberapa peninggalan China seperti Guci dan piring batu yang hingga kini dipergunakan sebagai alat Maskawin. [13]
Memasuki awal tahun 700 M para pedagang Persia, Gujarat dan India mulai berdatangan ke Papua untuk mencari rempah-rempah di wilayah ini setelah melihat kesuksesan pedangang asal China. Mereka menyebut pulau ini dengan nama “Dwi Panta” dan juga “Samudranta” yang berarti ujung Samudra dan ujung Lautan.
Pada tahun 1300, Kerajaan Majapahit menyebut wilayah ini dengan Wanin dan Sram. Tapi, penamaan ini masih belum jelas. Apakah mengacu pada satu pulau Papua ataukah hanya mengacu pada semenanjung Onin di Fak-Fak dan Sram yang merupakan pulau Seram di Maluku. Baru memasuki tahun 1646, kerajaan Tidore menyebut Pulau ini dengan “Papa-Ua” yang artinya tidak bergabung/bersatu. Dalam bahasa Melayu bisa juga berartinya keriting.
b. Kontak dengan Bangsa Eropa
Jauh sebelum Bangsa Asia dan Eropa mengenal tempat ini, sekitar tahun 200 M, ahli Geography yang bernama Claudius Ptolemaeus (Baca tentang: Klaudius Ptolemaeus) berwarga negara Roma menyebut pulau Papua dengan nama “Labadios”.
Setelah memasuki abad ke 15 Bangsa Eropa mulai menjelajahi dunia untuk mencari jalur perdagangan dan juga produk untuk diperdagangkan. Era penjelajahan ini berlangsung dari tahun 1500-an hingga awal 1800-an. Era ini diikuti oleh perdagangan secara teratur (tripang, kulit burung cenderawasih, tempurung kura-kura, kulit massoi, dll.), yang kemudian diikuti oleh kolonisasi (dipicu oleh perdagangan), dan kegiatan misionaris. Proses ini dapat dijelaskna sebagai berikut.
Bangsa Eropa yang pertama kalinya menemukan pulau ini adalah dua orang pelaut Portugis bernama Antonio d’ Abreu and Francisco Serrano, pada tahun 1511-1513. Tapi, mereka tidak mendarat di daratan Pulau Papua. Mereka menyebut pulau ini dengan “Os Papoas”. Orang Eropa pertama yang mengunakan nama “Papua” adalah Antonio Pigafetta yang turut bertualang bersama Fernando de Magelhaens dalam perjalanannya mengelilingi bumi. Pigafetta berada di Laut Maluku sekitar tahun 1521. Penamaan Papua ini, menurut Koentjaraningrat agaknya berasal dari kata Melayu”pua-pua, yang berarti “keriting.
Sejarah Papua Nugini dan Papua Barat
Peta kuno tahun 1600-an.
Jadi, ada kesalahan pemanan selama ini.” Antonio Pigafetta bukan orang Portugis, tapi orang Italia”. Ia adalah seorang saintifik (ilmuwan) sekaligus seorang pelaut yang turut serta dalam visi keliling dunia bersama Fernando de Magelhaens. Selain itu, Magelhaens yang memimpin palayaran ini berkebangsaan Portugis. Tetapi, pelayaran yang dilakukannya atas nama raja Spanyol. Hal itu akibat konflik internal antara Magelhaens dan Raja Portugis, Manuel. Ia Meminta dukungan ke Raja Spanyol, Charles I dan dikabulkan.
Semua bukti pelayaran mereka dapat diketahui dari catatan Pigafetta. Pada 27 April 1521, Magellan terbunuh di Philipina dan misinya diteruskan oleh Juan Sebastián Elcano.
Satu hal yang membuat pelayaran ini unik adalah dari pelayaran ini pula untuk pertama kalinya, orang Eropa mengetahui keberadaan burung cenderawasih, tepatnya di dekat Irlandia Baru (sekarang sudah terbagi jadi 2 provinsi di PNG: (Baca: Irlandia Baru) pada tahun 1521. [14] dan dari pelayaram itu pula oleh Magelhaens samudra yang luas itu diberinama, Pasifik.
Penting!
” Burung surga ini menjadi salah satu objek yang paling menarik perhatian orang Eropa waktu itu. Selama bertahun-tahun mereka hanya mengetahui burung cenderawasih dari bunyinya dan spesimen tanpa kaki yang dapat dibeli di pasar. Setelah penemuan itu dan dari hasil ekspredisi Coquille dibawah pimpinan Louis Duperrey (1822-1824 ) mereka mengetahui bahwa burung ini ternyata memiliki kaki. “Orang Eropa butuh tiga abad untuk mengetahui burung cenderawasih itu berkaki”. Terhitung sejak kulit cenderawasih Paradisaea minor sampai di Seville pada tahun 1522 sampai penemuan kelompok ekspredisi di atas ini “.
Setelah masa ini berlalu, Jorge de Meneses (Portugis) adalah orang pertama yang tiba diperairan sekitar Papua pada tahun 1527. Ia menamai Pulau ini dengan “Llhas dos Papuas” yang berarti rambut keriting. Namun, ia pun hanya mencapai Biak dan pesisir utara Kepala Burung. Ia tidak sampai di daratan pulau Papua.[15]
Pada tahun 1528 Alvaro de Saavedra (Spanyol) mengunjungi tempat ini. Ia tiba di Pulau Supiori dan menemukan banyak pasir kuarsa bercampur emas. Ia menamai pulau ini “Isla de Oro” dalam bahasa Spanyol berarti “Pulau emas”. Kemudian pada tahun 1537, Hernando de Grijalva mengikuti jejaknya. Dari mereka ini tidak satu pun yang berhasil mencapai daerah yang melampaui wilayah Yapen dan Biak.
Pada Tahun 1545 Ynigo Ortiz de Retes (Spayol) mencapai muara-muara S. Ramu dan S. Sepik, sebelum akhirnya berputar kembali menuju Tidore. Dalam pelayaran kembali ini, ia singgah di suatu tempat yang sekarang disebut Sarmi. Ia juga menancapkan bendera Spanyol di muara Sungai Mamberamo dan mendeklarasikan daerah itu bagian dari kekuasaan Raja Spanyol. Ia menyebut daratan ini “Nueva Guinea” karena orang-orangnya terlihat mirip orang Afrika. Dari nama inilah kemudian dalam bahasa inggris di kenal “New Guinea” sebagaimana penejelasan di atas. Memasuki tahun 1569 pulau ini mulai dimasukkan ke dalam Peta Dunia.
Belanda mulai mengirim tim ekspredisinya ke Maluku dan Papua pada tahun 1605. Tahun 1623, Jan Carstensz (Belanda) berlayar sepanjang pantai Barat dan menemukan sebuah gunung tinggi yang diselimuti Salju Putih. Ia melaporkan temuannya itu tapi tidak dipercayai oleh bangsa Eropa lainnya. Mengapa? Kerana tidak mungkin ada salju di sekitar garis Equator 40 Lintang Selatan.[16]
Selanjutnya pada Tahun 1643, Abel Tasman (Belanda) berlayar di pesisir utara di wilayah yang sekarang dikenal sebagai Britania Baru, yang menurutnya bersambungan dengan Nugini. Upaya ini merupakan kontak awal dan hubungan dengan Nugini, yang kemudian terbatas di wilayah-wilayah barat saja. Belanda belum memasuki Pulau besar Papua.
Tahun 1700 William Dampier (Inggris) mendarat di Kepulauan Karas. Ia mengelilingi pulau Salawati dan memberi nama selat antara Batanta dan Waigeo dengan Selat Dampier. Ia juga mengunjungi pesisir utara dan menemukan Mussau serta Emira di bagian utara Irlandia Baru. Ia menemukan selat yang dalam (di antara pulau ini dengan Nugini) dan menamai pulau baru ini sebagai “Nova Britannia”. Pada tahun sama, James Cook, J. Banks, dan D. Solander memastikan bahwa Nugini dan New Holland (sekarang dikenal sebagai Australia) sebagai wilayah berbeda. Mereka berlayar melintasi Selat Torres.
Sejarah Papua Nugini dan Papua Barat
Peta Papua 1700-an.
Memasuki Tahun 1781, Francisco Antonio Maurelle (Spanyol) menemukan lebih banyak pulau di Bismarck. Kemudian, tahun 1792 dan 1793 pelayaran Prancis lainnya yang mengelilingi dunia berada di perairan Nugini dan untuk pertama kalinya bersandar di Teluk Huon. Memasuki tahun 1815 Nugini didominasi oleh beberapa pelayaran besar Prancis, yang secara keseluruhan bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan sejarah alam dan mengumpulkan banyak koleksi data. Hasil perjalanan mereka itu, saat ini berada di Natural History Museum Paris.[17]
Dari pembahasan di atas ada juga beberapa bangsa asing yang pernah melintasi dan singah di Pulau Nugini ini. Bangsa Amerika baru terlibat ketika tahun 1606, bersamaan dengan Pedro Ferna’ndez de Quiro memimpin ekspedisi Spanyol ke Pasifik Selatan dan menemukan Vanuatu [18]. Di susul dengan Inggris. Kapal Angkatan Laut Kerajaan Inggris yang pertama kali berlayar melintasi perairan Nugini adalah Sulphur di bawah pimpinan Edward Belcher. Mereka sempat singgah di Kep. Solomon, Kairiru di pesisir utara dan Yapen [19]

3. Memasuki Penjajahan – Kolonisasi

Pada tahun 1760-an eksplorasi alam di Nugini dan pulau-pulau di sekitarnya mulai dilakukan ala kadarnya. Mereka hanya mengoleksi benda-benda yang aneh dan langka. Proses itu belanjut hingga memasuki akhir abad ke-18. Penjelajah alam mula-mula dilakukan oleh Alfred Russel Wallace yang mengunjungi daerah Kepala Burung dan Kep. Raja Ampat pada tahun 1840-an dan Odoardi Beccari dan Luigi d’Albertis yang mengunjungi Peg. Arfak pada tahun 1870-an. Selama ini Nugini merupakan wilayah yang masih belum dijelajahi. Kecuali di bagian barat, dekat lokasi perniagaan yang bisa dijangkau Rumphius dari Ambon. Baru memasuki akhir abad ke-19 eksplorasi serius mulai dilakukan di lokasi-lokasi yang belum terjamah.
Penguasaan Nugini secara resmi oleh Belanda, pembuka Terusan Suez, pengembangan pemukiman di di wilayah Australia, peningkatan perniagaan di pulau-­pulau Pasifik, bertumbuhnya perdagangan bulu burung dan keingintahuan ilmiah tentang kondisi alam membuat mata dunia terpanah untuk menjelajahi Pulau Nugini. Terlebih setelah buku “Malay Archipelago” yang ditulis oleh Wallace diterbitkan. Para penjelajah kemudian berdatangan, khususnya setelah Jerman menguasai kepulauan di bagian timur laut Nugini dan Inggris di bagian tenggaranya. Proses ini dapat dijelaskan secara singkat sebagai berikut.
4. Pembangian Pulau Nugini oleh Belanda, Inggris, dan Jerman.

Sejarah Papua Nugini dan Papua Barat
Pulau Nugini dibagi tiga negara.
Belanda mulai mengklaim New Guinea Barat, garis 141 Bujur Timur pada tahun 1826 [20]. Klaim ini belum dirumuskan dengan negara penjajah Inggris Raya di selatan dan Jerman di bagian utara Nugini Belanda.
Pada tanggal 24 Agustus 1828 Belanda memproklamirkan secara umum bahwa wilayah bagian Barat New Guinea dan memberi nama Nederland Niuew Guinea. Pengumuman ini ditandai dengan pendirian Pos militer dan benteng Fort Du Bus di teluk Triton, Kaimana. Batas wilayah itu mencakup sebelah barat garis 141° Bujur Timur. Pada saat inilah untuk pertama kalinya pantai selatan juga dimasukkan ke dalam koloni Belanda. Tapi, memasuki tahun 1835 pos militer itu dihapuskan karena selama delapan tahun, 10 perwira, 50 prajurit Eropa, dan 50 prajurit Indonesia gugur.[21]
Catatan: Upaya kolonisasi di New Guinea Barat, telah dilakukan oleh Inggris Pada tahun 1793 dengan membangun Benteng Fort Coronation di pantai teluk Doreh oleh 15 sampai 20 orang tentara. Tapi, usaha ini gagal.
Selanjutnya, pada tanggal 17 Maret 1824 Belanda dan Inggris mengadakan pertemuan di London. Pertemuan itu menghasilkan sebuah perjanjian. Kedua negara ini menetapkan wilayah kekuasaannya masing-masing. Belanda menguasai Sumatra, Jawa, Maluku, Sulawesi, dan New Guinea bagian Barat. Sedangkan Inggris menguasai Malaya (Malaysia), Singapura dan Borneo bagian Utara.[22]
Berikutnya, pada 1883 bendera Inggris dikibarkan di Port Moresby. Seluruh daerah Nugini-Belanda serta pulau-pulau lain di antara meridian 141° dan 155° dikuasai Inggris. Memasuki tahun 1885 Inggris memproklamirkan bagian timur Nugini sebagai wilayahnya.
Tidak lama kemudian, tahun 1884 Jerman mengibarkan bendera di Kep. Bismarck dan bagian barat Kep. Solomons. Pada tahun yang sama, Jerman mengambil alih Nugini-Belanda Utara. Jadi, besarnya perhatian pihak lain terhadap Nugini-Belanda telah mendorong Belanda agar lebih memperhatikan wilayah koloninya ini.[23]. Dari situlah cikal-bakal Pulau terbesar kedua itu di bagi tiga negara.
Memasuki tahun 1895 Inggris mengakui klaim Belanda atas wilayah Nederland Niuew Guinea dan di susul oleh pengakuan Jerman pada tahun 1910. Garis batas Internasioanl yang memisahkan Papua Nugini (Papua Timur) dan Papua Barat (West Papua ) masih berlaku hingga saat ini.
a. Pemerintahan Belanda di West Nugini (Papua Barat)
Pada tahun 1898, parlement Belanda mengesahkan anggaran sebanyak f. 115.000 untuk pertama kalinya membangun Pemerintahan di Papua. Pemerintahan ini diberi nama Resident Nederland Niuew Guinea. dengan Gubernurnya, Hier Rust. Penamaan yang digunakan belanda ini secara langsung merujuk pada penamaan awal Nova Guinea yang menandakan bahwa Penduduk Nugini memiliki perbedaan yang sangat jauh dengan penduduk Nederland Indies. Mereka berkulit hitam dan berabut keriting yang tentunya berbeda dengan bangsa Melayu[24]
Catatan: Jauh sebelum proses ini: Zending Protestan sudah sejak 1855 menetap di Nugini-Belanda dengan ditugaskannya zendeling C.W. Ottow dan J.G. Geissler di Mansinam
Pada tahun yang sama pemerintah Belanda mulai mendirikan pos-pos pemerintahan di Pantai Barat Fak-Fak dan di pantai barat-laut Manokwari. Pos ketiga di Pantai tenggara Merauke pada 1902. Pendirian pos ketiga ini, karena gangguan yang dialami oleh pemerintah Inggris akibat serangan dan penjarah suku Marind-Anim dari pantai tenggara Nugini-Belanda. Belanda berusaha mendirikan pos-pos pemerintahan, mengeksplorasi daerah pedalaman memasuki tahun (1900-1930) dan menaklukkan puncak-puncak gunung yang penuh tantangan di Papua. Selanjutnya, Belanda menancapkan bendera Belanda di Hollandia (Sekarang Jayapura) pada tangga 7 Maret 1910, tepatnya di wilayah perbatasan Jerman New Guinea di bagian Utara.
Pada masa ini pembangunan dan ekspredisi telus dijalankan hingga kepelosok-pelosok Papua. Pembangun hanya nampak di daerah pesisir. Pada tahun 1930-an ekspedisi biologi yang berkolaborasi antara Belanda, Inggris dan Amerika dilakukan ke pelosok pedalaman. Ekspedisi yang paling terkenal ini dipimpin oleh Richard Archbold. Pada ekspredisi ini pula, mereka menemukan Lembah Baliem yang padat penduduknya pada tahun 1938.
1. Pembangunan di Nugini Belanda
Saat itu pembanguan di Nugini Belanda bisa dibilang sangat kalah jauh dengan Nugini Britain. Pembangunan itu termasuk pembangunan fisik maupun Sumber Daya Manusia (SDM). Poin ini yang membuat kagun Schoorl saat berkujung ke Papua Nugini waktu itu.
Kesaksian Choorl: 
” Lalu-lintas penerbangan di atas Nugini-Australia menyentak saya: sangat ramai, dengan pesawat besar dan kecil, karena sebagian besar lalu-lintas manusia itu melalui udara. Dalam hal ini Nugini-Belanda tertinggal jauh. Di pedalaman banyak jalan di mana terutama digunakan Landrover dengan roda besar. Jalan di sana juga melalui daerah-daerah kosong. Jalan-jalan itu jelek; kubangan di tengah jalan dan longsoran di tepi jurang.Saya berkesempatan mengunjungi perusahaan pendulang emas di daerah Sungai Sepik. Di sana para pekerja Papua hanya dapat membelanjakan upah mereka di sebuah toko pemerintah. Kalau tidak salah, mereka terikat kontrak dengan perusahaan dan seusai kontrak dapat meninggalkan perusahaan dengan membawa hasil kerja mereka. Mereka kelihatan sehat-sehat dan semua berpakaian layak.[25] “
Setelah Perang Dunia II, Belanda melakukan lebih banyak upaya pembangunan infrastruktur yang sebagian besar telah dimulai oleh para misionaris dan memberikan pelayanan kesehatan serta pendidikan bagi rakyat Papua. Sepanjang tahun 1950-an, pengembangan ekonomi diharapkan dari eksplorasi dan pengolahan hasil tambang, khususnya cadangan-cadangan minyak dan sumber daya kehutanan yang sangat luas dan dari perkebunan kelapa, coklat, serta pala yang sebagian besar dimiliki oleh orang-orang non Papua.
Penyebab utama West Papua tertinggal jauh dari East Papua dapat dirangkum menjadi tiga:
  • Dominasi orang-orang luar Papua yang dibawah Belanda khususnya Nederland Indies untuk diperkerjakan oleh Belanda di Papua.
  • Letak Belanda yang jauh dari Papua. Tidak seperti PNG, Australia terletak di Pasifik.
  • Meningkatnya tekanan Indonesia dan Amerika atas Belanda.
Pernyatan lainnya adalah Drooglever dalam bukunya sempat menyingung akan hal ini. Posisi-posisi menengah di Nugini Belanda di isi oleh orang Nedeland Indies yang didatangkan Belanda. Sementara Orang Papua menjadi masyarakat kelas bahwa. Hal senada juga kembali dinyatakan Schoorl bahwa dalam penerimaan tenaga kerja, di Nugini-Australia menerapkan aturan yang tidak menerima tenaga kerja selain Australia dan pribumi. Selain itu Rosmaida (2013:232-233) juga menyatakan hal yang sama.
Kesalahan dan kelemahan Belanda inilah yang membuat Nugini Belanda tertinggal. Selanjutnya dimanfaatkan Indonesia untuk menanam nasionalisme Indonesia dikalangan orang Papua melalui para pendatang yang dibawa Belanda.
2. Membentuk Negara Papua Barat
Memasuki Tahun 1950-an Indonesia gencar berdiplomasi dan berjuang untuk merebut Nugini Belanda. Ketika jalur diplomasi berakhir buntuh, Indonesia memilih jalan konfrontasi dengan Belanda. Indonesia membangun basis militer dangan mayorita persenjataan yang didukung Rusia. Memasuki tanggal 27 Desember 1958, presiden Soekarno mengeluarkan UU nomor 86 tahun 1958 tentang nasionalisasi semua perusahaan Belanda di Indonesia.
Satu hal yang jarang diketahui orang adalah ketika pemerintah Belanda mencoba berdiplomasi dengan Indonesia soal Nugini-Belanda. Australia dibahwa kepemimpinan Menteri R.G. Menzies. Ia penah mengatakan apabila “Belanda akan melepas Papua, Australia akan bersedia untuk mengayomi wilayah itu. Bagi Belanda tawaran seperti itu kelewatan batas. Dilematisnya, dilain pihak Belanda sudah membuat perjanjian di KMB melalui Van Maarseveen kepada Indonesia, bahwa Belanda tidak pernah akan mengalihkan Papua kepada pihak ketiga di luar Indonesia”.[26]
Belanda yang sudah mengetahui rencana besar Indonesia, pada tanggal 5 April 1961 membentuk Nieuw-Guinea Raad atau yang kemudian dikenal Dewan Perwakilan Rakyat Niew Guinea. Proses pemilihan dilakukan secara demokratis dan berjalan lancar. Dalam pembentukan dewan inilah segala atribut kenegaraan di tetapkan, dengan nama negera “Papua Barat” (West Papua). Penamaan ini tentu karena wilayah tenggara (sekarang PNG) juga ketika berada dibahawa Australia penah mengunakan nama Papu
Tujuan dari pembentukan ini untuk memberi kemerdekaan atas Papua sesuai dengan hukum internasional yang mengatur tentang pemberian kemerdekan bagi daerah-daerah koloni. Pada saat acara pembukaan itu salah satu tokoh Papua, Nicolas Jouwe dalam pidatonya mengingatkan bahwa berdirinya dewan merupakan buah karya Van Eechoud, yang karena itu wajar ia dapat menyandang nama bapa orang-orang Papua. [28]
Dari segi pendidikan, mulai nampak ketika memasuki tahun 1960-an. Jumlah orang yang diberikan kesempatan untuk sekolah di luar negeri meningkat. Pada tahun 1960, 29 orang Papua bersekolah di Belanda dan tahun 1961, jumlahnya meningkat menjadi 50 orang untuk mengikuti sekolah-sekolah lanjutan. Ada juga siswa-siswa Papua yang dikirim ke Australia dan Fiji untuk pendidikan kedokteran atau teknik radio[29]
Kekuasaan Belanda di Papua Barat baru diakhiri tanggal 1 Oktober 1962, sesuai dengan ketentuan Perjanjian New York, tanggal 15 Agustus 1962, antara Belanda dan Indonesia, yang diperantarai oleh diplomat AS, Eslworth Bunker.[30] Penyerahan ini juga turut mengakhiri semua rancangan program Belanda untuk Papua Barat dan harapan kemerdekaan orang Papua. Belanda sudah menyusun program jangka pendek menengah dan jangka panjang. Di mulai dari tahap awal mempersiapkan sumber daya manusia Papua sampai dengan pemberian kemerdekaan sesuai dengan hukum Internasional. Semuanya, di rampas Indonesia.
Belanda berjanji, pada pemerintah Indonesia untuk menyumbang bantuan sebesar US$30 juta untuk mendanai pembangunan Irian Barat melalui Fund of the United Nations for the Development of West Irian sebagai bagian dari persetujuan dekolonisasi. Dengan keluarnya Indonesia sebagai anggota PBB, dana tersebut baru di cairkan pada tahun 1966 [31] yang kemudian digunakan Indonesia untuk pembangunan transmigrasi dan pengamanan pelaksanaan Pepera di Papua.
Pada bulan Februari 1966, seratus kepala keluarga dari Jawa diberangkatkan dengan kapal, sebagai bagian dari program penempatan penduduk oleh pemerintah. Sebagian dari mereka akan ditempatkan dekat Soekarnopura, dan sisanya dekat Merauke bagian Selatan. Lahan mereka dirampas dari pemilik tradisionalnya. Di sini tidak perlu disebutkan bagaimana prosedur penguasaan atas lahan tersebut.
Pada bulan Juli-Agustus 1969 Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) berlangsung. Sebanyak 1025 orang di seleksi dari delapan daerah. Dari jumlah itu, 1.020 orang wakil dengan suara bulat menyatakan bergabung dengan Indonesia. Lima orang di antaranya tidak hadir. Satu orang dilaporkan dieksekusi karena ia tidak mau mengikuti naskah yang telah didiktekan sebelumnya oleh Indonesia selama Pepera berlangsung [32]
Dalam PEPERA ini banyak kecurangan yang dilakukan Indonesia, bahkan sampai memasuki tahun 1980-an operasi-operasi militer masih terus dilakukan Indonesia. Banyak catatan sejarah membuktikan bahwa sudah ratusan ribu rakyat Papua gugur ditangan militer Indonesia.
Protes rakyat Papua atas kecurangan-kecurangan itu, hingga saat masih terus berlajut. Menurut Adijondro proses itu meninggalkan tiga paham besar di kalangan orang Papua. Ada tiga kelompok besar paham kebangsaan yang hidup di kalangan orang Papua:
  • Paham kebangsaan suku (ethnon ationalism)
  • Paham kebangsaan “Merah Putih”
  • Paham kebangsaan Papua [33]
Dari 3 poin paham di atas ini, Dihai menambahkan satu poin paham nasonalisme di Papua, yakni “Nasionalisme Musiman” kelompok ini pahamnya bersifat pramatis dan dinamis. Mereka bisa berada di kelompok mana saja dan turut menyesuaikan dengan kepentingan pribadi atau kelompok mereka.
Dan jika saya ditanya ada diposisi paham yang mana? Maka saya akan menjawab. Saya bukan Merah Putih, saya bukan suku Mee tetapi saya adalah bangsa Papua.Bisa baca lebih lanjut:
3. Nugini Timur (Papua Nugini-Nugini Jerman)
Kehadiran Inggris di wilayah Nugini Timur alias Papua New Guinea mulai berlangsung antara tahun 1760-1815. Pada masa ini Ekspedisi baru pertama dilakukan oleh Philip Carteret dari Inggris. Ia mengunjungi berbagai bagian Pasifik barat daya, Solomon barat laut dan Britania Baru pada tahun 1767 dan sempat singgah di Bougainville. Jejak ini diikuti oleh Louis Antoine de Bougainville dari Prancis pada tahun 1768 bersama dengan Philibert Commerson mengunjungi bagian pesisir tenggara, Kep.Louisiade dan wilayah utara Kep.Solomon dan wilayah barat daya dan Irlandia Baru sebelum menuju ke Jawa[34]
Sejarah Papua Nugini dan Papua Barat
Peta Teritori Papua dan Teritori New Guinea (PNG).
Eksplorasi skala besar di Nugini Jerman baru dimulai antara tahun 1884-1914 setelah wilayah Nugini Inggris dan Nugini Belanda. Selain Miklucho-Maclay, sebelum tahun 1885 “pelopor” satu-satunya di daratan Papua adalah F. H. Otto Finsch. Naturalis dan pakar geologi berkebangsaan Jerman ini meneliti seluruh pesisir timur Nugini sebagai bagian dari pelayarannya ke seluruh dunia (1880-1885). Memasuki tahun 1899 kegiatan perdagangan dan penjelajahan di bagian timur laut sebagian besar dilakukan oleh bangsa Jerman, melalui perusahaan negara Neu Guinea Compagnie. [35]
Setelah Inggris diduduki Australia. Mereka mulai tertarik untuk menduduki Nugini bagian Timur. Pada tahun 1846 Letnan Yule dan disusul kapten Moresby pada tahun 1873 mengklaim wilayah Nugini Timur milik Inggris. Tapi, klaim itu masih bersifat personal.
Pada masa ini pemerintah Inggris yang sudah banyak menduduki daerah orang kulit hitam di Afrika dan Australia merasa kurang tertarik dengan wilayah itu. Namun, negarawan terkenal di New South Wales, Henry Parkes menyatakan bahwa “Australia akan merasa aneh dan janggal kalau kekuatan lain bercokol di wilayah Timur Nugini”.
Pernyataan Parkes ini, dan meningkatnya perhatian Jerman atas pulau ini menjadi dorongan bagi pemerintah Queensland untuk mendesak pemerintah Inggris agar menguasai Nugini Timur. Pertimbangan biaya atas penguasaan wilayah itu dan sikap skeptis Inggris atas pengaru Jerman membuat Inggris belum sepenuhnya tertarik atas wilayah itu, kecuali seluruh koloni Inggris di Australia siap membantu biaya untuk menduduki tempat itu. Bahkan sampai tahun 1877 emas ditemukan di bagian Selatan Nugini, Inggris belum begitu tertarik.
Memasuki tahun 1847 orang Eropa mulai mendirikan pemukian di Moyua dalam misi penyebaran agama Katolik. Setelah 8 tahun berlalu, misionaris protestan khususnya Anglikan dan metodis masuk sepanjang wilayah pesisir Selatan pada 1870. Gejera Anglikan memulai misinya di Dogura dan Dobu. Sedangkan Metodis di Dobu.
Pada tahun 1873 kapten John Moresby, meneliti pelabuhan DNC (National Capital Distric) dan menamai dua pelabuhan dengan Fairfax dan Pelabuhan Moresby. Penamaan ini untuk menghormati ayahnya, Laksamana Fairfax Moresby. Pada tahun 1874, Williarn G. Lawes mendirikan markas besar Masyarakat Missionaris London di dekat Hanuabada.
Dari situ misionaris London mulai melakukan misinya di sepanjang Pantai Central pada tahun 1873. Pemerintah Inggris baru datang pada tahun 1884. Memasuki tahun 1885, misi Katolik Roma membuat markas besarnya di Pulau Yule. Perusahan karet dari Eropa mulai didirikan di derah Sogeri, tepian sungai Kemp Welch. Memasuki tahun 1908, untuk pertama kalinya Gereja Masehi Advent memulai misinya di Papua Nugini, di dekat daerah Sogeri.
Kepada pemerintah Inggris, Jerman mengatakan mereka siap menduduki Nugini Timir. Memasuki tahun 1883 kepala pemerintahan Queensland, Sir Thomas Macllwraith menyatakan akan bertindak apa bila pemerintah Inggris tetap tidak bersedia. Inggris masih menolak. Macllwraith mengutus seorang hakim untuk menancapkan bendera Inggris sambil menyatakan bahwa Nugini Timur menjadi milik Inggris. Keputusan Queensland itu, didukung seluruh koloni Inggris di Australia. Selanjutnya, mereka mendesak Ingris untuk bertindak.
Akibat desakan itu, pada bulan November 1884 Inggris mengklaim Nugini bagian Timur. Pada tahun 1885 Inggris memproklamasikan wilayah itu dan menyerahkan kepemimpinannya (secara defacto) kepada negera bagian Queensland sampai tahun 1901. Tapi anggaran belanjanya, ditanggung bersama oleh keenam koloni. Memasuki tahun 1904, Inggris menyerahkan pengusaan wilayahnya “Nugini Britania” kepada Australia. Dari tangan Australia, nama wilayah ini diubah menjadi Papua.
Selanjutnya, saat perang dunia I. Australia berhasil menduduki wilayah “New Guinea Timur laut (Nugini Jerman) pada 2 Mei 1921. Kemudian Australia diberi mandat oleh liga bangsa-bangsa untuk memerintah wilayah Nugini Jerman dan oleh Autralia wilayah ini diberi nama “New Guinea”.
Papua dan Nugini merupakan kedua wilayah yang berbeda baik secara defacto maupun de Jure, meskipun sama-sama dibawah kekuasaan perintah Australia. Teritori Nugini merupakan mantan jajahan Jerman yang direbut Australia (baik de jure maupun defacto). Sedangkan Teritori Papua adalah Jajahan Inggris (de jure) yang diperintah Australia secara de fecto. Kedua teritori ini digabungkan pada tahun 1949 dan memasuki tahun 1972 digambungkan menjadi “Papua Nugini”. Selanjutnya, pada 16 September 1975 teritori ini memperoleh kemerdekaan penuh dari Australia dengan nama negara “Papua New Guinea”.


Sumber Utama acuan artikel:
1. Kartikasari, Sri Nurani, dkk. 2012. Seri Ekolog Indonesia Jilid VI: Eklogi Papua. Jakarta: Obor.
  • [1] lihat hlm 43.
  • [4] lihat hlm 5.
  • [5] lihat hlm 76
  • [6-8]lihat hlm 84
  • [7]lihat hlm 89
  • [9] lihat hlm14
  • [14]lihat hlm20
  • [17]lihat hlm 33
  • [18]lihat hlm21
  • [19]lihat hlm 25
  • [20]lihat hlm 16
  • [27]lihat hlm 5
  • [29]lihat hlm 651
  • [31lihat hlm 678
  • [32lihat hlm 645
  • [34lihat hlm 22
  • [35lihat hlm 33
2. Koentjaraningrat.1994. Irian Jaya: Membangun Masyarakat Majemuk. Jakarta: Djambatan.
  • [2-3] lihat hlm 4
3. Jhon Anari. 2011.Analisis Penyebab Konflik Papua Dan Solusinya Secara Hukum Internasional.
  • [13] lihat hlm 83
  • [15] lihat hlm 87
  • [16] lihat hlm 88-87
  • [22] lihat hlm 89
  • [24] lihat hlm 18
4. Drooglever.2010. Tindakan Pilihan Bebas. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.
  • [25] lihat hlm 232
  • [28] lihat hlm 548
5. Choorl. 2001. Belanda di Irian Jaya. Jakarta. Garda Budaya
  • [21-23] lihat hlm 2
  • [25] lihat hlm 266
6. Aditjondro, George . J. 2000. Cahaya Bintang Kejora. Jakarta. ELSAM
  • [10] lihat hlm 281
  • [11] lihat hlm 283
  • [12] lihat hlm 274-274
  • [30] l
Sumber diadaptasi penulis:
  1. Kamma. 1981. Ajaib di Mata Kita. Jilid 1: BPK Gunung Mulia
  2. Syaiful Bachri.2013.Peran Sistem Tunjaman, Sesar Mendatar Transform Dan Pemekaran Terhadap Sebaran Cekungan Sedimen Di Indonesia. Jakarta: Jurnal Geologi Indonesia. Vol.14,No.1.
  3. Wikipedia. 2018. Papua Nugini. https://id.wikipedia.org/wiki/Papua_Nugini. Diakses pada Februari 2018.
Copyright ©Dihaimoma “sumber”
Hubungi kami di E-Mail: tolikaratoday@gmail.com

41215961_2043700245680615_491225919428493312_n
Foto : Koleksi Pdt.Hanz Wanma dalam Buku Domine I.S.Kijne
Manokwari, Today Kemewahan serta jabatan yang tinggi dengan gaji berlipat ganda yang ditawarkan Pemerintah Belanda untuk bertugas di Hindia Belanda, Suriname, Afrika dan Australia, semua ditolaknya. Kijne lebih memilih mengabdi dalam keadaan serba terbatas di Negeri Orang Hitam Kulit Keriting Di Timur Jauh Lautan Teduh Nieuw Guinea, sebuah negeri yang masih hidup dalam kegelapan, perang suku, pengayauan dan pembunuhan. Dia dan istrinya yang dalam keadaan hamil bahkan ditangkap Tentara Jepang dan diasingkan serta terpisah selama 3 tahun di pengasingan di Belige dimana anaknya Maria Caroline lahir dalam tahanan.
41378804_2043700155680624_564049465049088000_n
Biografi Isack Samuel Kijne
Biografi Isack Samuel Kijne
Zendeling Domine Isack Samuel Kijne lahir dari sebuah keluarga Tukang Kayu di Vlaardingen, sebuah kota kecil di negeri Belanda, dari Ayah bernama Hugorinus Kijne dan Maria Fige’e, perempuan Belanda berdarah Yahudi yang sehari-hari bekerja sebagai guru. Mereka adalah anggota Jemaat setia di gereja Hervormd Belanda.
Kijne kecil menyelesaikan pendidikan menengah tahun 1914 kemudian melanjutkan pendidikan guru di Klokkenburg Nijmegen dan tamat tahun 1918. Setelah menamatkan sekolah guru, Kijne harus mengajar di tempat kelahirannya Vlaardingen, namun ketertarikan dan kesempatan terbuka untuk mengabdi di Tanah Papua, Kijne melanjutkan studi mengambil Akta Kepala Sekolah ( Acte Hoofdonderwijzer) selama 2 tahun ( 1918-1920,) dan Kursus Bahasa Melayu (1921) dengan memperoleh Akta Pengetahuan Berbahasa Melayu ( ( Acte Maleis-Lan En Volkenkunde )
I.S.Kijne merupakan lulusan terbaik sekolah guru di kotanya, untuk itu dia juga diremokemendasikan sekolahnya untuk belajar ke Tubingen Jerman guna menguasai bidang music, seni suara dan melukis serta kebudayaan. Sebelum berangkat ke Papua tahun 1923, I.S.Kijne ditempa lagi di Pusat Zending di Oegstgeest selama setahun dari tahun 1921-1922 bersama kedua rekannya F.Slumpt dan Johanes Eygendaal.
Keputusan Untuk Mengabdi Ke Negeri Bangsa Kulit Hitam di Timur Jauh Lautan Teduh
Januari 1923, I.S.Kijne bersama kedua rekannya F.Slumpt dan Johanes Eygendaal melakukan perjalanan dari Roterdam menuju Mansinam selama 5 bulan lamanya melalui Guinea di Afrika Barat, Batavia dan akhirnya tiba di Mansinam. Perjalanan Roterdam-Guinea ditempuh selama sebulan. Akibat cuaca yang tidak bersahabat memaksa mereka terpaksa harus menunggu beberapa hari di Guinea, kemudian pada pertengahan Pebruary 1923, mereka meneruskan perjalanan dan tiba di Batavia April 1923, setelah melapor di Batavia, mereka kemudian melanjutkan pelayaran selama 2 bulan melalui Makasar, Ternate dan tiba di Mansinam pada tanggal 23 Juni 1923.
Kijne remaja tertarik dan akhirnya jatuh cinta pada Papua terbit sendiri dari hatinya, setelah mendengar kisah-kisah Heroik dan Menantang dari temannya Willem Van Hasselt, anak dan cucu dari Ketua Zending F.J.F.Van Hasselt dan J.L. Van Hasselt, Willem Van Hasselt yang merupakan teman sekolahnya di sekolah guru ( Kweek School ) di Klokkenburg Nijmegen. Temannya, berkisah tentang Ayah dan Kakeknya yang bertugas selama 67 tahun di Papua. Kakeknya J.L.Van Hasselt menjadi Ketua Zending pertama 1863-1894 dan dilanjutkan oleh Ayahnya F.JF.Van Hasselt pada tahun 1894-1931.
41371629_2043700192347287_3988334522583220224_n
Temannya menceritakan keadaan pelayanan orang tua dan kakeknya serta keadaan masyarakatnya di sebuah negeri orang berkulit hitam dan rambut keriting di Timur Jauh Nieuw Guniea. Kakeknya sudah pensiun dan pekerjaan Zending dilanjutkan ayahnya, namun disana masih sangat membutuhkan guru dan pendeta untuk bekerja bersama mereka, jika Kijne merasa tertarik untuk melayani disana, dia akan menyampaikan berita ini kepada Ayahnya di Nieuw Guinea untuk menyurati Badan Zending USV untuk merekomendasikan I.S.Kijne datang ke Papua.
Ottow dan Geissler telah menabur Injil Di Mansinam sejak tahun 1855 hanya mampu bertahan hingga tahun 1859, pekerjaan ini kemudian dilanjutkan oleh J.L.Van Hasselt, ( ayah dari J.F.Van Hasselt ), W.Otterspoor dan Th.F.klaasen yang tiba pada 8 April 1863, namun pada perayaan 25 Tahun Pekabaran Injil pada tanggal 05 Pebruary 1880 di Mansinam, baru tercatat 20 orang yang dibaptis menjadi Kristen termasuk para budak yang ditebus oleh Zendeling.
Dikisahkan, pekerjaan Zendeling di Mansinam sangatlah berat karena alamnya namun juga watak manusianya yang keras kepala sehingga Kerajaan Belanda bahkan hendak menutup kegiatan Zending disana. Banyak diantara para Zendeling dan keluarga yang meninggal dan harus kembali ke Belanda karena sakit. 10 orang Zendeling dan isteri meninggal, sementara, 7 orang anak dan 7 orang istri meninggalkan Papua kembali ke Belanda karena sakit, sementara J.L.Van Hasselt sudah berusia tua.
Beruntunglah Badan Zending USV menemukan J.F.J.Van Hasselt, anak dari J.L. Van Hasselt tahun 1894 untuk dikirim ke Papua menggantikan Ayahnya. Van Hasselt junior ini tiba dan bertugas di Mansinam pada tanggal 10 November 1896. Kondisi alam dan watak manusia Papua yang keras yang membuat pekerjaan Pekabaran Injil tersendat membuat Van Hasselt junior ini kemudian mengembangkan pendidikan guru bagi putra-putri Papua untuk dapat meneruskan pekerjaan Zendeling di Papua.
Pengembangan pendidikan guru ini tentu membutuhkan guru-guru baru yang mau bertugas di Papua yang medannya sangat berat dan penuh tantangan, disaat inilah, anaknya F.J.F. Van Hasselt yang merupakan teman sekolah Kijne di sekolah guru ( Kweek School ) mengisahkannya kepada Kijne saat sejak masih duduk di Kelas pertama. Setelah menamatkan sekolah guru 1918, Kijne membulatkan niatnya untuk mengabdi di Tanah Papua sebagai Kepala Sekolah, Guru dan Pendeta di Papua yang dimulai dari Mansinam 23 Juni 1923.
F.J.F. Van Hasselt ayah dari teman Kijne menuturkan, Kijne seharusnya ditugaskan di Suriname, Guinea, Pakistan atau Hindia Belanda ( Indonesia ) namun atas tuntunan Tuhan, ia memilih Nieuw Guinea. Setelah menamatkan sekolah guru, saya sendiri harus ke Suriname, Afrika atau Australia tetapi mengapa saya ke Nieuw Guinea ? itu karena maksud Tuhan supaya saya berada disana, kata Kijne ketika diwawancarai Holvast, seorang wartawan sebuah Harian di Kota Leiden ketika menghadiri acara perpisahan Kijne untuk mengakhiri seluruh pekerjaannya dengan Zending tahun 1969.
Pergumulan dan Observasi Pendidikan Karakter Manusia Papua Di Mansinam (1923-1925 )
Memulai aktifitasnya di Mansinam, Kijne melakukan pengamatan terhadap perilaku anak-anak didiknya disana baik watak dan karakter, budaya dan adat istiadat, kemampuan bermusik,bernyanyi, bekerja dan status social mereka. Kijne telah mempelajari laporan pemuda-pemuda Papua yang dikirim untuk dididik Ambon, Sangihe dan Tobelo namun mereka tidak betah dan kembali dengan kapal yang ditumpanginya.
Sebaliknya, di Mansinam, anak-anak Sangihe, Ambon dan Tobelo juga dididik disana bersama-sama anak-anak Papua sehingga muncul image anak-anak Papua tidak mampu bersaing dengan mereka. Sehingga Kijne ingin membuktikan bahwa anak-anak Papua juga mampu bersaing dengan anak-anak dari Ambon, Sangihe dan Tobelo ( Amber ) . Bila perlu anak-anak Amber dikirim kembali ke daerahnya dan anak-anak Papua bersekolah sendiri di Mansinam,supaya suatu saat nanti mereka akan melihat apakah orang Papua bisa bersaing dengan saudaranya dari Ambon,Sangihe dan Tobelo ?
Kita harus memberikan kesempatan kepada anak-anak Papua untuk membangun dirinya sendiri dengan bentuk pendidikan yang dimengerti menurut pikiran, budaya dan kepercayaannya sehingga mereka menurut mereka pendidikan bukanlah sekedar tiruan saja melainkan sesuatu yang sangat mahal harganya untuk itu harus dijaga dan dikembangkan sepanjang peradaban manusia Papua dahulu, kini dan nanti.
“ Saya berpendirian bahwa khusus anak-anak Papualebih dididik untuk hidup secara mandiri, sehingga mereka sendiri dapat berprestasi. Untuk itu, sesungguhnya mereka mesti mempunyai satu sekolah dalam arti sebenarnya dimana mereka tidak menerima kesan seolah-olah bahwa sekolah hanya sekedar tiruan saja untuk anak-anak Papua “
Kijne berkesimpulan pemuda Papua tidak bisa dididik bersama-sama dengan pemuda Ambon,Tobelo dan Sangihe di Mansinam. Mereka harus dididik sendiri sehingga Kijne membatasi anak-anak Sangihe dan Ambon serta memutuskan anak-anak negeri Papua harus dididik sendiri secara alami menurut tata cara hidupnya yang alami dan terpusat di suatu tempat, sehingga kosentrasi belajar dan pembentukan karakter dapat berjalan serta tidak banyak waktu yang terbuang.
Ada sebuah tempat yang cocok untuk pertanian, dan atas usul Zendeling D.B.Starrenburg dan D.C.A.Bout yang telah bertugas di Teluk Wondama, Kijne melakukan perjalanan awal Januari 1925, ke Miei dan beberapa kampung di Teluk Wondama. Setelah menilai kelayakan tempatnya dari semua aspek, Kijne berketetapan menutup sekolah di Mansinam dan membuka sekolah baru sebagai pusat produksi guru-guru di Tanah Papua di Bukit Aitumeri.
Bukit Aitumeri Miei dipilih I.S.Kijne sebagai tempat yang menjanjikan bagi masa depan pendidikan di Tanah Papua.
Lanscape Teluk Wondama dengan panorama yang indah, tanahnya yang subur untuk pertanian, kampun-kampungnya yang berdekatan memudahkan siswa berpraktek, jauh dari keramaian dan hiruk pikuk, disinilah tempat yang tepat untuk dikembangkan sekolah berpola asrama dimana anak-anaknya dididik untuk bekerja dan mandiri dalam segala hal demi masa depan tanah dan bangsanya.
Aitumeri Bukit Peradaban Orang Papua ( 1925-1941)
Yakin dengan keputusannya atas ilham dari Sang Khalik, I.S.Kijne tiba di Miei pada tanggal 25 Oktober 1925 bersama 35 muridnya dari Mansinam untuk memulai misinya mendidik orang Papua secara khusus. Keesokan harinya, pada sore hari I.S.Kijne berjalan dan mengamati sebuah batu di Bukit Aitumeri tempat dia mulai mengajar dan tempat berdiri untuk melatih paduan suara. Ketika malam tiba, Domine I.S.Kijne mendatangi batu tersebut untuk bergumul dan berdoa kepada Tuhan sebelum memulai misi pendidikannya.
Setelah bergumul dan berdoa, Kijne kemudian meletakkan dasar peradaban Bangsa Papua diatas batu tersebut. Kijne berkata demikian..” Diatas Batu ini, saya meletakkan perdaban orang Papua, sekalipun orang memiliki kepandaian tinggi,akal budi dan marifat untuk memimpin bangsa ini, tetapi bangsa ini akan bangkit dan memimpin bangsanya sendiri “.
Setelah berdoa dan meletakkan peradaban Bangsa Papua diatas batu tersebut, Kijne memulai aktivitas pengajaran dengan sekolah sambungan, setelah itu dilanjutkan dengan kelas kursus hingga menjadi sekolah normal pada tahun 1931 menjadi sekolah Guru Jemaat dengan jenjang pendidikan 2 tahun. Karena dianggap layak, sekolah ini berhak mendapat bantuan Guberneman.
Bekerja sejak tahun 1925-1941, I.S.Kijne telah berhasil meluluskan 780 siswa anak Papua yang kemudian kembali ke kampung halamannya menjadi guru dan pelayan dalam jemaat di seluruh Tanah Papua. Sejak tiba di Mansinam tahun 1923, di Tanah Papua sudah ada 110 sekolah yang tersebar di Teluk Wondama, Manokwari, Yapen,Biak,Raja Ampat,Bintuni,Fak-Fak,Sorong Selatan hingga ke Tanah Tabi ( Jayapura ). Namun ketika I.S.Kijne membuka sekolah di Miei, sudah tumbuh 1100 sekolah yang kemudian mengirim murid-muridnya untuk melanjutkan pendidikan di Bukit Aitumeri Miei.
Bekerja selama 9 tahun sejak dari Mansinam tahun 1923 hingga tahun 1932, I.S.Kijne mengambil cuti kembali ke kampung halamannya di Vlaardingen dan meminang gadis pujaannya Johanna Regina Uitenbogaard dan diboyong ke Bukit Aitumeri dan hidup bersamanya dalam pekerjaan pekabaran Injil hingga tahun 1941. Johanna Regina Uitenbogaard biasa dipanggil Jopie. ( Pengabdian Mama Jopie akan dikisahkan secara terpisah dengan judul I.S.Kijne Cinta dan Pengorbanannya Untuk Bangsa Kulit Hitam Di Timur Lautan Teduh bagian 2 )
Ditangkap dan Menjadi Tawanan Perang Dunia II
41440941_2043700212347285_4182162153224011776_n
I.S.Kijne dan Mama Jopie melayani di bukit Aitumeri sejak tahun 1933 hingga 1941, mereka mengambil cuti pendek berlibur ke Malang Jawa Timur Agustus 1941 – Maret 1942, namun nasib naas menimpa mereka, pecah Perang Dunia II tahun 1942 dan Tentara Jepang sudah menguasai Hindia Belanda dan menangkap para pekerja Zending, F.C.Kamma ditangkap di Raja Ampat sementara I.Kijne dan Mama Jopie ditangkap di Malang April –Mei 1942 dan di asingkan ke Balige Sumatera Utara selama 3 tahun.
Diasingkan selama 3 tahun ( 1942-1945 ), I.S.Kijne dan Mama Jopie ditawan terpisah dan keadaan ini membuat mereka harus berpisah selama 3 tahun. Dikisahkan, pada saat diasingkan secara terpisah ini, Mama Jopie Kijne melahirkan anaknya yang pertama Maria Caroline Kijne dalam tahanan. Diperkirakan, waktu ditahan, Mama Kijne sedang hamil, mungkin kehamilan ini juga yang menjadi alasan mereka mengambil cuti pendek dan berlibur ke Malang.
Undangan Ratu Juliana dan Tawaran Yang Menggiurkan
Setelah Perang Dunia II berakhir tahun 1945, Ratu Belanda Juliana memerintahkan orang-orang di Kerajaan Belanda untuk mencari tahu berapa pekerja Zending Belanda di Nieuw Guinea ( Tanah Papua ) yang masih hidup dan ditawan Jepang dan berapa yang sudah meninggal ? Ada yang dibunuh ada ada yang masih hidup, salah satunya adalah I.S.Kijne.
Ratu Juliana kemudian memerintahkan I.S.Kijne untuk menemuinya di Istana Kerajaan Belanda pada tahun 1946, namun karena kecintaannya terhadap Bangsa Papua, Kijne lebih memilih kembali ke Papua untuk melihat perkembangan Papua akibat Perang Dunia II namun dia harus melayani sebagai pendeta di Medan Sumatera Utara ( Oktober 1945- Mei 1946 ), barulah I.S.Kijne berkesempatan mengunjungi Papua dan memulai membangun misi barunya.
Setelah bebas dari tawanan dalam pengasingan di Belige Sumatera Utara, Kijne juga kembali ditawarkan untuk bekerja di Malang Jawa Timur dan Medan Sumatera Utara dengan tawaran gaji tiga kali lipat seperti dengan jaminan dan fasilitas memuaskan lainnya tetapi Kijne menolak tawaran tersebut dan memilih tetap pulang untuk membangun kembali puing-puing sekolah dan gereja yang rusak akibat PD II sekaligus membangun kembali peradaban Papua.
Cornelis Mesakh Gossal mengisahkan pada tahun 1930 Kijne ditawari oleh Departemen Kebudayaan Pemerintah Hindia Belanda untuk menjadi Direktur Kweek School di Jawa dengan gaji tiga kali lipat dengan jaminan pension dan segala fasilitas yang menjanjikan dan sangat memuaskan, tetapi Kijne menolakanya. Kijne lebih menjunjung tinggi panggilan Tuhan untuk mendidik pemuda-pemuda Papua yang masih terbelakang untuk dipsersiapkan menjadi pemimpin-pemimpin masa depan.
Januari 1947, I.S.Kijne mengambil cuti kembali ke negeri Belanda sekaligus bertemu dengan Ratu Juliana, pada kesempatan ini, Ratu Juliana menganugerahkan penghargaan sebagai “ Bapak Orang Nieuw Guinea “ Orange
Cinta Membawanya Kembali Membangun Puing-Puing Peradaban Baru Bangsa Papua
Ketika diwawancarai wartawan Harian Leiden, tentang pekerjaannya di Papua yang sudah rusak berat, telah menderita ditawan, dan tawaran menggiurkan yang datang kepadanya untuk mengabdi di tempat lain dengan gaji 3 kali lipat namun dia lebih memilih kembali ke Papua, I.S.Kijne mengatakan bahwa Tanah dan Bangsa Papua adalah bagian yang tidak bisa dipisahkan dari hidup dan keluarga saya.
Kecintaan Kijne yang begitu besar terhadap Papua telah ditunjukkannya melalui Mansinam dan Miei dalam membimbing dan mengasuh anak-anak Papua, tak pernah sekalipun I.S.Kijne maupun Mama Jopie memarahi anak didiknya, apalagi mengatakan mereka bodoh, yang dilakukannya adalah berdoa dengan mereka.
Karena kecintaannya juga, ketika kembali dari pengasingan di Sumatera Utara, Kijne membangun kembali puing-puing sekolah dan gereja yang hancur akibat Perang Dunia II. Terinspirasi dengan kehadiran Pasukan Sekutu Hitam pada PD II, anak-anak Papua ingin berkarir di segala bidang maka Kijne seperti mereka maka dibukalah Institute Joka yang akan mendidik anak-anak Papua untuk dapat melanjutkan pendidikan ke bidang-bidang lain seperti Pamong Praja, Polisi, Pertukangan, Guru, Perawat dan lain-lain.
Menjadi Direktur di Institute Joka ( 1949-1951 ), sekolah di Miei pun ditutup karena Kijne lebih berkosentrasi di Joka sekaligus menjabat sebagai Ketua Zending Keempat dan Ketua Zending Keempat ( 1949-1953). Melepaskan jabatan Direktur Joka Institute dan Ketua Zending kepada F.C.Kamma, I.S.Kijne pergi ke Serui mendirikan Sekolah Theologi RAZ di Serui untuk memproduksi para pendeta dan guru jemaat ketika nanti GKI DI Irian Barat sudah menjadi gereja Mandiri.
Di Serui, I.S.Kijne bersama teman-teman Zendelingnya, terutama F.C.Kamma mempersiapkan berdirinya GKI Di Irian Barat secara resmi pada 26 Oktober 1956. Usianya yang makin senja serta Kondisi politik yang makin tidak menentu membuat Kijne mengambil keputusan untuk kembali ke kota kelahirannya.
Perpisahan Yang Mengharukan
Sebelum pulang ke Belanda setelah bertugas di Serui 1958, I.S.Kijne mengunjungi seluruh murid-murid dan rekan kerjanya baik di Jayapura, Teluk Wondama dan Kepala Burung Tanah Papua, dan berangkat dari Biak dengan pesawat KLM. Disalaminya mereka satu per satu disertai pesan-pesan serta melaksanakan perjamuan dengan mereka.
Di Wondama murid-muridnya berbaris rapi di sepanjang jalan menuju pelabuhan sambil berucap..masa pandita,tabea au so, sjen Jesus be berkat au ( Tuan Pendeta, selamat jalan, Tuhan Jesus memberkati mu). Kijne berjalan sambil melambaikan tangan kepada semua orang yang mengantarnya diiringi music suling tambur.
Sesekali jalannya harus terhenti karena murid-muridnya menyanyikan lagu Seruling Emas 33 “ Kami Dengar Bapa Mau Berangkat “ dan Mulialah bentangan langit bersandar pada “ Wondiwoi”. Kakinya terasa berat untuk melangkah menaiki kapal yang akan membawanya pergi, bibir tersenyum namun hatinya sedih karena harus meninggalkan mereka untuk selama-lamanya.
Kapal Zen yang membawanya berputar mengelilingi Wasior Ke Miei sebanyak tiga kali kemudian membelah samudera menghilang meninggalkan Teluk Wondama.
Penentuan Pendapat Rakyat dan Serangan Jantung
Pulang ke negerinya tidak berarti I.S.Kijne memutus hubungan dengan Tanah dan Bangsa Papua. I.S.Kijne tetap bekerja di pusat Zending dan menjadi dosen yang mengajarkan mata kuliah Etno Sosiology dan Antropology Budaya Gereja-Gereja di Indonesia hingga 1959 dan menjadi penulis dan kepala perpustakaan sejak tahun 1964-1969.
Karena kecintaan Kijne memiliki harapan sangat besar untuk Bangsa Papua dapat memimpin dirinya sendiri, setiap perkembangan pekerjaan Zending maupun politik di Tanah Papua diikutinya dengan baik. Ketika mendengar hasil Penentuan Pendapat Rakyat dimana Rakyat Papua memilih bergabung dengan Indonesia, Kijne merasa terpukul dan sangat kecewa sekali, kesehatannya mulai menurun drastic.
Setelah pelaksanaan Pepera tahun 1969, I.S.Kijne berkata kepada istrinya Mama Jopie di Vlaardingen ( Pebruary 1970 ) bahwa orang Papua memilih bergabung dengan Indonesia dibawah intimidasi dan manipulasi politik sebab Utusan PPB Ortizan pun dibawah tekanan militer Indonesia, hal ini membuat Kijne prihatin dan menyesal hal yang sangat buruk akan menimpa Bangsa dan Tanah Papua.
“ Hal yang buruk dalam sejarah peradaban manusia Papua dan dikemudian hari membuat Tanah dan Orang Papua akan menyesal seumur hidupnya di Tanah yang diberkati namun tidak dihargai oleh Bangsa Papua sendiri.
Ketika dinyatakan oleh Holvast wartawan Harian Leiden kenapa anda pulang Ke Belanda padahal tenaga dan pikiran mu masih dibutuhkan disana ? I.S.Kijne mengatakan, sebenarnya saya tidak mau pulang karena pasti disana saya akan diberikan tempat oleh Bangsa Papua untuk seluruh keluarga dan anak cucu namun saya harus pulang ke negeri Belanda dengan terpaksa karena situasi politik yang tidak baik antara Belanda, Indonesia dan Penguasa Dunia ( Amerika dan sekutunya,Rusia, China dan sekutunya).
Saya pulang dengan keyakinan bahwa Tanah dan Bangsa Papua akan dikuasai oleh mereka yang mempunyai kepentingan politik atas segala kekayaan dari hasil tanah itu tetapi mereka tidak akan membangun manusia Papua dengan kasih sayang, sebab kebenaran dan keadilan akan diputar balikkan serta banyak hal baru yang akan membuat orang Papua menyesal, tetapi itu bukan maksud Tuhan, karena itu keinginan manusia.
Sebab, pasti suatu saat Orang Papua akan melihat maksud Tuhan untuk Tanah dan Alamnya yang masih penuh misteri, rahasia dan kepastian untuk sebuah masa depan yang pasti.
Sabtu, 14 Maret 1970, sebuah telegram yang mengejutkan diterima oleh Pimpinan Sinode GKI Di Irian Barat yang dikirim oleh Sekretaris Umum Dewan Pekabaran Injil Gereja Hervormd Nederland. Bapak Orang Nieuw Guinea ISack Samuel Kijne telah menghadap Sang Penciptanya pada tanggal 11 Maret 1970 karena Serangan Jantung.
( Joe Stefano Anak Guru Jemaat GKI Di Tanah Papua )
Sumber :
– Hanz Wanma, Domine Izak Samuel Kijne, Mengenang Hidup dan Karyanya Untuk Tanah dan Bangsa Papua, JW Press, 2016.
– Decky Wamea, Peranan Zending dalam Bidang Pendidikan, Sasako Papua Publisher, Manokwari, Agustus 2010.

Posted by: Admin
Copyright ©Domine Izak Samuel Kijne“sumber”
Hubungi kami di E-Mail: tolikaratoday@gmail.com
Diberdayakan oleh Blogger.